Kamis, 01 Mei 2014

Biarkan

Mungkin aku hanya bisa melihatmu dari jauh.... Bahkan hanya beranda facebookmu yang bisa aku lihat Tanpa ada dirimu Memang kau adalah seorang yang baik dan penyayang... Ya, aku tahu itu.... Karena kata- katamu padanya aku bisa tahu Entahlah... Mungkin angin yang memberitahuku tentangmu Tapi.... Apakah benar angin yang memberitahuku? Atau mungkin perasaan ini yang selalu.... Tidak,,, Aku tidak mau melanjutkan kata- kataku. Aku cukupkan saja rasa ini. Namun.... Itu sulit, butuh waktu lama aku menghapusnya.... Biarkan saja... Biarkan saja rasa ini bersemayam di lubuk hati Biarkan saja... Biarkan saja aku menunggu waktu disini Biarkanlah... Biarkan aku menabung rindu untukmu Biarkanlah Tuhan yang akan mempertemukan kita dalam keridhaan-Nya
Surabaya, 02 Mei 2014

Minggu, 23 September 2012

Hakim Iyas yang Cerdas

Iyas Ibn Mu’awiyah adalah hakim yang cerdas. Banyak masalah yang telah terselesaikan dengan mudah. Dan ia menjadi terkenal karenanya. Suatu hari datanglah kepadanya seorang lelaki yang mengadukan seorang pedagang. Ia berkata, “Wahai hakim, saya telah menitipkan kepada laki- laki ini harta yang banyak. Kemudian saya pergi untuk perjalananku. Dan ketika saya kembali, ia mengingkari bahwa ia yang mengambil harta ini. maka bagaimana pendapatmu?.” Iyas berkata kepada pengadu, “Dan dimana kamu berdua ketika kau memberikanya harta?” Pengadu itu menjawab, “Kami dibawah pohon di padang pasir”. Iyas berkata pada pedagang, “Apakah benar apa yang dikatakan orang ini?” Ia menjawab, “Tidak wahai hakim, saya tidak mengambil harta itu, dan saya tidak tahu pohon itu selama hidupku”. Iyas berkata pada pengadu, “Pergilah kepohon itu, semoga Allah menjelaskan kepadamu kebenaran, mungkin engkau tak berkata benar, dan mungkin engkau menyembunyikan hartamu di bawah pohon dan engkau telah lupa”. Keluarlah pengadu itu, dan Iyas berkata kepada pedagang, “Duduklah disini, hingga temanmu kembali. Semoga ia menemukan hartanya, maka aku akan memberimu kebebasan.” Laki- laki itu duduk, dan Iyas menyelesaikan permasalahan orang- orang dan seakan-akan ia terlupa akan masalah itu semua. Hingga waktu telah berlalu, tiba-tiba ia menoleh kepada pedagang dan berkata, “Apakah kira- kira temanmu sekarang telah sampai di pohon itu?” Laki-laki itu menjawab, “Belum.... sesungguhnya pohon itu jauh”. Maka Iyas berkata, “Wahai musuh Allah, engkau pengkhianat, dan laki-laki itu telah menitipkan harta dibawah pohon”. Laki- laki itu merasa kacau dan berkata, “Iya, sesungguhnya saya berdosa. Akan tetapi, jagalah rahasiaku, maka Allah akan menjaga rahasiamu!”. Iyas memanggil laki-laki sebagai polisinya. Dan memerintahkan mereka untuk menangkap pedagang itu dan tidak boleh membiarkannya meninggalkan tempatnya. Dan ia berpaling dari bagian-bagian hakim. Dan beberapa waktu kemudian, kembalilah seorang laki-laki yang terbebani dan capek. Iyas berkata kepadanya, “apakah engkau menemukan hartamu?” laki-laki itu menjawab, “Tidak tuan, saya telah pergi ke tempat pohon itu dan sungguh saya ingat bahwa saya telah memberikan hartaku pada laki-laki itu, dan saya tidak ragu dalam hal ini” Iyas berkata,” Anda benar, dan pedagang itu telah mengetahui kesalahannya maka ambillah hakmu darinya”. Dan pedagang itu mengembalikan harta tersebut. Dan ia berhak mendapatkan hukuman. ***** Orang dulu kalau dia memang salah cukup dengan beberapa pertanyaan sudah mengaku, tapi bagaimana dengan orang sekarang? Bagaimana dengan para koruptor? Kalau belum menghabiskan air liur sang KPK, ya belum ngaku... wahhh...... kasihani donk KPKnya. Mereka juga butuh ketentraman hidup. Mereka pasti tidak tentram karena memikirkan tanggung jawabnya sebagai pembantu rakyat..!!!

house....

Who would not want to own a house? Every human being would want to build a house. Since the house is a shelter when the sun was hot, the house as a blanket when the nights are cold came, the house that became the most beautiful places in the world. When a married couple, are married but do not have a home, they would make every effort possible to buy a house. Whether they work together or just a hard-working husband. Regardless of the price of the house they definitely have a dream to get them. They can not always participate in the father and mother. Especially if they've had a baby. Soon they certainly crave a magnificent castle home.

Senin, 21 Mei 2012

The Beautiful House

Square-shaped, that is home to most forms of human dwelling. For some reason someone as incapable of living without a home. Although the house is a house that has a very small and unsuitable for occupancy, but they would rather sleep at home and enjoy it. Sleep in a large house, complete with all the amenities, but if it's all rather have your own, then whatever the meaning of it all. Only wishful thinking can break in a beautiful place if there is no effort to get it.
A husband and wife is usually the first house they Think is a problem. They will feel comfortable if they can quickly buy a house and live with the wife at home. Very different, if a husband and wife are still living with his parents to live alone one roof together with a loved one. It would be even more beautiful in living life together.

Rabu, 16 Mei 2012

The Dream House

The house is something very important. If already married life should be thinking about being home. Without a home in the family will look very less time. Although living under one roof with both parents, but someone must be thinking how I could afford to buy homes and live independently with her ​​husband and the wife or children. That's an important house. No house will seem less so in establishing and building a harmonious household.